Fish

Senin, 01 Maret 2010

Reduplikasi: Arti dan Contoh

• Pengertian:
Adalah pengulangan seluruh/sebagian kata dengan atau tidak disertai awalan/akhiran. Proses reduplikasi ini menghasilkan kata ulang, dan kata ulang ini mempunyai ciri-ciri tersendiri yang bisa disebut kata ulang.
• Ciri-ciri umum:
o Menimbulkan makna gramatis.
o Terdiri lebih dari satu morfem (Polimorfemis).
• Ciri-ciri khusus:
1. Selalu memiliki bentuk dasar dan bentuk dasar kata ulang dan dapat dipakai dalam konteks kalimat sehari-hari.
Contoh:
Kata Ulang Bentuk Dasar
Mengata-ngatakan Mengatakan, bukan mengata
Menyatu-nyatukan Menyatukan, bukan menyatu (sebab tidak sama dengan kelas kata ulangnya)
Melari-larikan Melarikan, bukan melari
Mempertunjuk-tunjukan Mempertunjukkan, bukan mempertunjuk
Bergerak-gerak Bergerak, bukan gerak (sebab kelas katanya berbeda dengan kata ulangnya)
Berdesak-desakkan Berdesakan, bukan berdesak

2. Ada hubungan semantis atau hubungan makna antara kata ulang dengan bentuk dasar. Arti bentuk dasar kata ulang selalu berhubungan dengan arti kata ulangnya.
Contoh:
 Bentuk alun bukan merupakan bentuk dasar dari kata alun-alun.
 Bentuk undang bukan merupakan bentuk dasar dari kata undang-undang.
3. Pengulangan tidak mengubah golongan atau kelas kata. Jika kata ulang itu merupakan kata benda, bentuk dasarnya pun berkelas kata benda. Jika kata ulang itu berkelas kata kerja, bentuk dasarnya juga berkelas kata kerja. Dapat dikatakan jenis kata kata ulang sama dengan bentuk dasarnya.
Contoh:
Kata Ulang Bentuk Dasar
Gedung-gedung (kata benda) Gedung (kata benda)
Sayur-sayuran (kata benda) Sayur (kata benda)
Membaca-baca (kata kerja) Membaca (kata kerja)
Berlari-lari (kata kerja) Berlari (kata kerja)
Pelan-pelan (kata sifat) Pelan (kata sifat)
Besar-besar (kata sifat) Besar (kata sifat)
Tiga-tiga (kata bilangan) Tiga (kata bilangan)

• Jenis-jenis reduplikasi:
a) Fonologis : pengulangan unsur fonologis, yaitu fonem, suku kata atau bagian kata yang tidak ditandai perubahan makna. Contoh: lelaki, pipi, kuku  tidak ditandai perubahan makna seperti pada gramatikal.
b) Gramatikal : pengulangan fungsional suatu bentuk dasar yang mencakup reduplikasi morfologis dan sintaksis.
c) Morfologis : pengulangan morfem yang menghasilkan kata. Contoh: membesar-besarkan, rumah-rumah
d) Sintaksis : pengulangan yang ada karena tuntutan kaidah sintaksis (menghasilkan klausa), seperti pembentukan keterangan. Contoh : jauh-jauh  walaupun jauh
e) Idiomatis : pengulangan yang maknanya tidak dapat dijabarkan dari bentuk yang diulang. Contoh : mata-mata  detektif (tidak ada hubungannya dengan mata.
f) Antisipatonis : pengulangan yang terjadi karena si pemakai bahasa mengantisipasi bentuk yang akan diulang. Prosesnya ke depan, berlawanan dengan konsekuetif. Contoh : tembak-menembak
g) Konsekuetif : pengulangan yang terjadi karena si pemakai bahasa mengungkapkan lagi bentuk yang sudah diungkapkan. Prosesnya terjadi ke depan. Contoh : menembak-nembak.
h) Non-idiomatis : pengulangan yang maknanya jelas dari bagian yang diulang maupun prosesnya. Contoh : kertas-kertas  banyak kertas.

• Selain itu, reduplikasi juga bisa dibagi berdasarkan proses pengulangannya:
1. Kata ulang utuh, adalah kata ulang yang diulang secara utuh. Contoh: gedung + { R } = gedung-gedung.
2. Kata ulang sebagian, adalah kata ulang yang pada proses pengulangannya hanya sebagian dari bentuk dasar saja yang diulang. Contoh: berjalan + { R } = berjalan-jalan
3. Kata ulang berimbuhan, adalah kata ulang yang mendapatkan imbuhan atau kata ulang yang telah diberi afiks. Baik itu prefiks, infiks maupun sufiks. Contoh: mobil + { R } = mobil-mobil + an = mobil-mobilan.
4. Kata ulang berubah bunyi, adalah kata ulang yangberubah bunyi dari bentuk dasarnya setelah terjadinya proses pengulangan. Contoh: sayur + { R } = sayur-mayur
Kata ulang semu, sebenarnya bukan kata ulang tetapi menyerupai kata ulang karena bentuk dasarnya sudah seperti itu. Contoh: onde-onde, kupu-kupu, gado-gado




• Makna kata ulang:
a) Menyatakan banyak tak tentu  rumah-rumah, gunung-gunung
b) Menyatakan sangat  kuat-kuat, besar-besar
c) Menyatakan saling, berbalasan, dilakukan oleh keduabelah pihak  tolong-menolong, tembak-menembak
d) Menyatakan paling/intensitas  sebaik-baiknya, setinggi-tingginya
e) Menyatakan tiruan/menyerupai  orang-orangan, rumah-rumahan
f) Menyatakan santai/senang  duduk-duduk, minum-minum
g) Menyatakan agak/dikenai sifat  kemalu-maluan, kehijau-hijauan
h) Menjatakan himpunan pada bilangan  dua-dua, lima-lima
i) Menyatakan agak (melemahkan arti)  jangan malu-malu, badan sakit-sakit
j) Menyatakan beberapa  bertahun-tahun, berhari-hari
k) Menyatakan kejadian terus-menerus  mencari-cari, bertanya-tanya
l) Menyatakan waktu  pagi-pagi, datang-datang marah
m) Menyatakan makin/bertambah  lama-lama, meluap-luap
n) Menyatakan penyebab/usaha  menahan-nahan, menguat-nguatkan

• Pembahasan kata ulang berdasarkan proses pengulangannya:
a) kata ulang semu
Kata ulang semu sebenarnya bukanlah bentuk dari proses pengulangan, karena bentuk itu sendiri sudah merupakan bentuk dasarnya. Namun kata ulang ini tetap dimasukkan dalam golongan ini karena bentuknya masih termasuk ke dalam kata ulang. Contoh: kupu-kupu
gado-gado
onde-onde
b) kata ulang berimbuhan
Dalam kata ulang berimbuhan sebenarnya yang diulang hanyalah sebagian dari bentuk dasarnya saja. Jadi, kata ulang yang terdapat afiks di dalamnya seperti berjalan-jalan, tumbuh-tumbuhan, tulis-menulis bukan merupakan kata ulang berimbuhan, tapi masuk dalam kata ulang sebagian.



Kata Ulang Bentuk Dasar
berjalan-jalan berjalan
tumbuh-tumbuhan tumbuhan
tulis-menulis menulis
Jadi kata ulang berimbuhan yang dimaksud adalah kata ulang yang mendapatkan afiks setelah proses pengulangan.
Contoh:
mobil → mobil-mobil → mobil-mobilan
gunung → gunung-gunung → gungung-gunungan
orang → orang-orang → orang-orangan
anak → anak-anak → anak-anakan
kereta → kereta-kereta → kereta-keretaan
Proses tersebut tidak dilihat dari faktor makna. Sebagai contoh: pengulangan bentuk dasar kereta menjadi kereta-kereta menyatakan makna 'banyak', sedangkan kereta-keretaan bermakna 'sesuatu yang menyerupai bentuk dasar'. Maka satu-satunya kemungkinan adalah kata kereta-keretaan terbentuk dari bentuk dasar kereta yang diulang dan mendapat afiks -an.
mobil → mobil-mobilan
gunung → gungung-gunungan
orang → orang-orangan
anak → anak-anakan
kereta → kereta-keretaan
c) kata ulang berubah bunyi
Kata ulang ini sebenarnya sangat sedikit. Di samping bolak-balik terdapat kata kebalikan, sebaliknya, dibalik, dan membalik. Dari perbandingan itu, dapat disimpulkan bahwa kata bolak-balik terbentuk dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan bunyi dari /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/. Contoh lain dari kata ulang berubah bunyi ini, seperti:
gerak → gerak-gerik
serba → serba-serbi
robek → robak-rabik
Di samping perubahan bunyi vokal seperti contoh di atas, terdapat pula perubahan bunyi konsonan, seperti:
lauk → lauk-pauk
ramah → ramah tamah
sayur → sayur-mayur
tali → tali-mali
Selain itu, kata-kata seperti simpang-siur, sunyi-senyap, beras petas, tidak termasuk ke dalam golongan kata ulang berubah bunyi. Kata-kata itu tidak dimasukan ke dalam golongan kata ulang berubah bunyi karena, siur bukanlah perubahan dari simpang, senyap bukan perubahan dari sunyi, dan petas bukan pula perubahan dari beras. Bentuk-bentuk seperti ini tidak termasuk dalam kata ulang berubah bunyi, tetapi bentuk-bentuk seperti itu adalah bagian dari kata majemuk yang salah satu morfemnya berupa morfem unik.
Jadi, pada kata ulang berubah bunyi ini, perubahan bunyinya tidak terlalu banyak dan bunyinya berhubungan dengan bunyi pada bentuk dasarnya.










Sumber-sumber
1) . Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Balai Pustaka. Jakarta
2) Harimurti, Kridalaksana. Kamus Linguistik. 1984. Gramedia. Jakarta
3) Ichtiar, Banu. Ensiklopedi Indonesia. 1984. Van Hoeve. Jakarta
4) www.google.com
5) www.sunarnoI.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar