Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Maret 2010

The Character Builder, Menggagas Eksistensi Sekolah sebagai Tempat Pendidikan Watak

1. Pengantar

Lewat Lectio Brevis (22/7), Rm. M. Hadisiswoyo SJ sebagai Kepala Sekolah SMA Seminari Mertoyudan menyampaikan cita-citanya akan keberadaan dan sepak terjang Seminari ini sebagai sebuah komunitas. Beliau menegaskan pentingnya Seminari sebagai The Moving School, komunitas yang selalu bergerak maju, tidak mengembara, berhenti, maupun berputar di tempat. Salah satu hal yang ingin dicapai adalah dengan menjadikan Seminari ini sebagai The Character Builder (pendidik watak).

Rektor SMA Seminari, A. Gustawan SJ dalam kesempatan yang sama juga menandaskan pentingnya seminari sebagai The Character Builder, di samping sebagai pendidikan calon imam. Salah satu hal yang diungkapkan dengan tegas dan jelas adalah dengan menjadi “Seminaris HEARS”

Kedua pemimpin tertinggi di seminari tersebut telah bekerja keras untuk merumuskan visi dan misi seminari ini sedemikian rupa. Maksud yang ingin dicapai jelas, yaitu agar para seminaris yang bersekolah di seminari ini tidak hanya menguasai kecerdasan intelektual, namun juga kecerdasan yang lain. Dengan kata lain, seminari ini diharapkan tidak hanya mampu mencetak gold yang memang sudah berupa gold, tetapi juga mengubah garbage menjadi gold. Cara yang ditempuh bervariasi, namun tetap berdasarkan visi dan misi yang telah diungkapkan dalam Lectio Brevis. Pamong Umum Seminari, P. Supriya Pr, mengungkapkan salah satu caranya yakni ”Gandrung Akan Keunggulan”. Di mana pun, kapan pun seminaris dituntut untuk gila mutu, agar dapat meraih hasil maksimal.

2. Seminari: The Character Builder

Dengan demikian, seminari ini ingin memposisikan diri sebagai alat pencetak calon imam yang berkepribadian baik, bermutu, dan cerdas dalam berbagai hal. Hal ini senada dengan arus perkembangan jaman yang cenderung tidak menjadikan intelektualitas sebagai ukuran satu-satunya mutu suatu sekolah. Dan itulah yang sekarang ini justru menjadi ukuran sekolah yang bermutu tinggi.

Sekolah yang juga mementingkan kepribadian siswanya masih relatif sulit ditemukan di negeri ini. Padahal, para pelajar, yang notebene masih remaja, menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Mengingat bahwa remaja masih sensitif terhadap berbagai pengaruh dari luar, maka sekolah menjadi salah satu bagian penting bagi dalam proses formatio pelajar. Berbagai pengaruh dan ajaran yang ada di sekolah bisa dilahap mentah-mentah. Mau tak mau sekolah ikut menentukan proses pencarian jati diri siswanya, mengingat bahwa frekuensi terjadinya sangat tinggi.

Seminari sendiri sebagai sekolah berasrama sudah berusaha menjadi The Character Builder sejak lama. Dan seminari sukses memanfaatkan keadaan yaitu memberikan pengaruh-pengaruh baik pada siswanya. Dengan demikian terciptalah manusia pintar nan cerdas. Maka banyak eks atau alumni seminari yang mengaku sukses dalam hidup mereka selanjutnya karena berbagai hal yang telah didapat dari seminari.

3. Pentingnya Character Building

Kita tahu dan sadar bahwa kita sebagai pelajar SMA (yang juga masih remaja) masih mencoba untuk mencari jati diri kita. Berbagai pengaruh dari luar, baik itu baik maupun buruk, bisa masuk begitu saja dan mempengaruhi kepribadian kita. Maka untuk sementara kita perlu mendapat bimbingan dalam hal ini agar tak semua pengaruh bisa masuk, paling tidak sampai kita benar-benar menemukan jati diri kita. Ada apa sich sebenarnya? Sebegitu pentingkah?

a) Arti Kepribadian (Character)

Kepribadian memang merupakan salah satu unsur penting dalam hidup. Namun jarang ada orang yang puas akan kepribadiannya. Semua pasti ingin selalu mengembangkan kepribadian masing-masing. Dan dapat dikatakan pula bahwa hampir seluruh hidup dan perbuatan kita dipengaruhi oleh kepribadian.

Kepribadian itu sendiri sulit diartikan secara pasti. Banyak sekali pengertian yang diungkapkan oleh berbagai pihak menurut pandangan dan pengalaman masing-masing seperti:

· Kumpulan sifat yang kita capai dalam proses menjadi manusia dewasa.

· Hasil karya kita sendiri, tergantung bagaimana kita mengembangkannya.

· .............(terserah, anda boleh mengartikannya menurut anda sendiri)

Manusia tersusun dari tubuh dan jiwa. Sebagai manusia, kita memiliki sifat kemanusiaan yang diberikan Tuhan, seperti tubuh, jiwa, juga berbagai kemampuan yang dapat kita lakukan. Namun hebatnya, tak ada satupun manusia dari dunia ini yang sama persis satu sama lain. Memang terkadang kita sulit mengungkapkan diri kita karenanya. Namun tak usah khawatir, semua itu membutuhkan proses. Yesus sendiri pun juga pernah bertanya pada para murid-Nya,”Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?” (bdk. Mat 16:15).

b) Tujuan Character Building

Mungkin pernah timbul pertanyaan dalam benak kita: Mengapa aku harus menata hidupku? Mengapa aku sebaiknya mengembangkan kepribadianku? Untuk apa? Apa sich untungnya?

Sebenarnya ada alasan pokok mengapa kita perlu berbuat demikian: Ya itulah kunci untuk menjadi orang yang seimbang dan dewasa. Tujuan kita itu ya Kedewasaan.

Ingat, dewasa berbeda dengan besar atau tua. Orang yang sudah besar belum tentu dewasa. Pada umumnya, dewasa berarti seseorang yang sudah tumbuh besar sesuai dengan umurnya. Ia mampu memenuhi kebutuhannya secara wajar, bergaul dalam bermasyarakat, dan memecahkan masalah dengan baik.

Kedewasaan juga merupakan hasil usaha kita sendiri. Bagaimana seseorang mengembangkan kepribadian juga berpengaruh pada tingkat kedewasaan orang tersebut. Maka betapa pentingnya mengembankan kepribadian. Dan salah satu kunci untuk menjadi dewasa adalah perkembangan yang seimbang. Untuk itu kepribadian yang solid mutlak dibutuhkan.

4. Tindak Lanjut

Sebagai sekolah yang ingin memposisikan diri sebagai The Character Builder, seminari telah melakukan dan memperhatikan hal-hal tersebut sejak lama. Namun perlu dicermati juga tentang unsur-unsur yang berpengaruh terhadap kepribadian. Maka baik jika sekolah-sekolah, tidak hanya Seminari Mertoyudan memperhatikan berbagai hal seperti:

a. Tuhan

Tuhan telah mengutus putra-Nya yang terkasih Yesus Kristus sebagai teladan pribadi yang sempurna. Dan kasih Allah beserta dengan curahan Roh Kudus mendorong kita untuk semakin mendekati teladan itu. Maka tiap sekolah hendaknya juga menyisipkan aspek kerohanian dalam berbagai kepadatan kegiatan, tidak terlalu menyibukkan siswa dengan tugas dan targetnya.

b. Agama

Nilai-nilai iman, harapan, dan kasih yang diajarkan seluruh agama memiliki peranan yang sangat penting. Iman memberi keyakinan bahwa kepribadian ideal yang menjadi cita-cita kita adalah benar. Harapan menumbuhkan sikap optimis dalam hidup. Kasih adalah cinta, dan tanpa kemampuan untuk mengasihi dengan tulus, orang tak akan mencapai kepribadian yang dewasa.

c. Keluarga

Keluarga merupakan tempat pendidikan awal dan mendasar bagi manusia baru. Apa yang terjadi beserta pengaruh-pengaruh yang masuk akan sangat berperan. Bahkan hingga memasuki masa remaja pun keluarga tak bisa ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Baik secara langsung maupun tak langsung, keluarga berpengaruh besar bagi perkembangan seseorang.

d. Masyarakat

Sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa lepas dari masyarakat. Hampir setiap hari manusia berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat mempengaruhi cara berpikir, sikap, dan juga nilai-nilai dasar hidup. Namun pengaruh yang masuk perlu dibatasi dan diseleksi. Banyaknya pengaruh buruk (terutama dari media massa) yang ditawarkan bisa merusak kepribadian kita.

e. Sekolah

Dengan banyaknya waktu yang diberikan orang untuk seolah membuat sekolah itu sendiri berperanan besar. Sekarang tinggal bagaimana sekolah itu memposisikan diri sebagai The Character Builder, dengan mengindahkan tingginya frekuensi peristiwa tersebut.

5. Kesimpulan dan Penutup

Sudah jelas bahwa sekarang ini The Character Builder harus ditegaskan. Cara yang paling efektif adalah melalui lembaga sekolah. Hal ini karena mengingat peranan sekolah yang begitu besar dalam membentuk jati diri manusia muda. Maka hendaknya pihak sekolah juga mengusahakan agar pengaruh-pengaruh yang diberikan sekolah yang bersangkutan berupa pengaruh yang baik.

Kita tahu bahwa character building bertujuan dan bermanfaat sangat baik, yaitu membentuk manusia yang tangguh dan berkompeten. Maka baik jika hal itu diadakan di sekolah-sekolah di Indonesia. Cara paling konkret yaitu dengan pengadaan mata pelajaran Kepribadian atau yang sejenisnya.

Seminari sendiri telah memproklamirkan diri sebagai The Character BuilderI. Hal ini dapat terlihat dari berbagai usaha dalam berbagai bentuk yang menunjang pembentukan jati diri manusia muda. Kita bisa menyebut seperti pengembangan diri dalam berbagai aspek, adanya pelajaran kepribadian dan moral, dan berusaha untuk menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan.

Bukan hanya untuk seminari saja, melainkan baik jika lembaga-lembaga sejenis juga menerapkan hal yang sama. Aspek-aspek yang mempengaruhi pembentukan kepribadian (seperti kerohanian, ajaran agama, keluarga, masyarakat (sosialisasi), dan sekolah) perlu diperhatikan dengan baik. Jika itu semua berjalan dengan lancar, baik, serta penuh kejujuran, hasilnya pasti akan memuaskan. Ribuan, bahkan jutaan manusia muda Indonesia yang tangguh dan berkompeten akan tercipta. Maka mari, bersama-sama kita mewujudkan impian kita, demi bangsa dan negara Indonesia tercinta!

6. Acuan Bacaan

  1. .Tantangan Membina Kepribadian. Jakarta: Cipta Loka Caraka. 1983.
  2. Hadisiswoyo, Martinus. Seminary: The Moving Sc hool. Mertoyudan. 2008
  3. Gustawan, Antonius. Lectio Brevis Rektor Seminari Menengah Santo Petrus Canisius TA. 2008/2009. Mertoyudan.2008
  4. Supriya, Paulus. Gandrung Akan Keunggulan. Mertoyudan. 2008
  5. Ekaristianto, Conrad. Garbage In Gold Out. Mertoyudan. 2007

Bus Sosial

Mana yang lebih penting bagi anda, Teori? Atau Praktek? Apa pun jawabannya, kedua hal itu merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan. Setidaknya jika ingin hasilnya baik. Namun apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di negeri ini menunjukkan adanya ketimpangan di antara keduanya.

Khusus untuk jurusan kelas sosial, ketimpangan di mana porsi teori lebih berat daripada praktek sangat kentara dalam lembaga pendidikan setingkat SMA.. Walaupun sudah ada usaha untuk menyetarakannya –antara lain dengan adanya perubahan kurikulum- tetap saja porsi teori terasa lebih banyak.

Yang perlu diingat, teori saja tidaklah cukup, diperlukan praktek untuk semakin mematangkan teori. Begitu juga sebaliknya, praktek saja juga tidaklah cukup, diperlukan teori agar orang tahu apa yang mereka lakukan dan kemudian berusaha untuk mengembangkannya.

Setiap hari anak-anak sosial harus berhadapan dengan (mungkin) buku-buku tebal yang wajib dihapalkan, guru yang berceramah tiada henti, dan suasana kelas yang cenderung santai dan membuat mengantuk. Setidaknya, itulah pandangan umum masyarakat tentang kelas sosial.

Jika pandangan itu memang benar adanya, maka seharusnya sudah banyak teori yang didapat, walaupun untuk prakteknya sendiri masih nol. Padahal jurusan sosial adalah program jangka panjang pemerintah untuk menyiapkan para calon tokoh masyarakat, di mana diperlukan kombinasi antara teori dan praktek (pengalaman). Jika keadaan terus begini, kapan akan tercipta manusia Indonesia yang mampu menjadi ”tokoh” dalam masyarakat?

Mudah dan Fleksibel

Sebenarnya tak sulit bagi kita untuk mencari ”kelas” untuk praktek kelas sosial yang mudah, murah, dan fleksibel. Jika kita mau melihat lingkungan sekitar kita, sudah banyak ”kelas” sosial yang tersedia, hanya saja pikiran kita kadang terlalu jauh dan abstrak. Sebagai contoh, ambillah bus kota atau bus umum sebagai ”kelas praktek”. Banyak hal terjadi di sana, asal kita mau masuk ke dalamnya, melihat, dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat (kelas bawah).

Dalam bus umum kelas ekonomi, ada banyak sekali hal yang bisa dijadikan sebagai pelajaran praktek untuk kelas sosial. Sebagai contoh, coba rasakan perbedaan tujuan dan motivasi setiap orang, mengapa bisa berada di sana. Ini merupakan bagian dari pelajaran sosiologi, berkaitan dengan tingkah laku individu dalam masyarakat. Perbedaan tersebut bisa saja lalu berkembang menjadi konflik. Misalnya, kenaikan harga BBM membuat para penumpang mengeluh dan tak menerima keadaan itu. Sementara bagi awak bus, itu sangat penting demi kelangsungan hidup mereka jika tak ingin merugi, sekalipun sangat mungkin berdampak pada menurunnya jumlah penumpang.

Atau pernahkah anda menghitung pendapatan awak bus dalam sehari saja? Sepintas mungkin terlihat sangat besar dan menjanjikan. Namun coba perhatikan lebih jauh. Tarif pembayaran yang relatif murah terkadang habis untuk membayar beban operasional seperti BBM. Jika untung, itu pun masih dibagi lagi dengan sesama awak bus. Jika kurang, maka mau tak mau mereka harus menutupnya dengan uang pribadi. Dari sini kita bisa melihat bahwa awak bus memiliki tuntutan yang tinggi, yaitu tuntutan ekonomi, menghidupi keluarga, omelan dari penumpang, dsb. Ini bisa saja menyebabkan perhatiannya terpecah dan terjadilah kecelakaan.

Di dalam bus umum sebenarnya masih banyak terdapat berbagai elemen sosial yang sangat membantu pembelajaran. Selain itu, segi afektif siswa juga ikut tersentuh dengan melihat secara langsung fakta yang terjadi di lapangan. Keadaan sosial mulai dari penumpang. pedagang, pengamen, hingga pengemis dapat membuat hati siswa tersentuh dan menjadi manusia yang semakin sosial. Hati ini ikut dilatih untuk mampu merasakan apa yang orang lain rasakan, untuk kemudian mencari cara untuk membantu. Dan keabstrakan teori di kelas pun tergenapi dengan kelas praktek tambahan ini.

Ada banyak sekali hal yang sebenarnya berpotensi menunjang pembelajaran siswa. Sekarang tinggal bagaimana kita bertindak secara kreatif dan membuka hati lebar-lebar. Tentu fokus pendidikan jangan hanya pada prestasi belaka, namun juga aksi dalam kehidupan sehari-hari dan juga inner beaty setiap pribadi. Bukankah manusia berkepribadian unggul dan berkualitas yang kita harapkan dari generasi muda kita? Sebenarnya dapat kita wujudkan dengan mudah, dan hal yang mudah itu jangan dibuat susah. Jadi sebenarnya mencari praktek dari teori sosial tak membutuhkan biaya besar bukan?

Menjadi Lebih Cerdas Bersama Koran

Media massa, dalam hal ini koran, telah mendapatkan tempat tersendiri dalam hati publik. Perlahan tapi pasti koran menjelma menjadi sebuah kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sadar atau tidak sekarang ini koran memberikan pengaruh yang cukup vital dalam kehidupan masyarakat. Percayakah anda bahwa koran dapat membentuk kepribadian seseorang, bahkan lebih luas lagi masyarakat? Percaya atau tidak hal itulah yang sudah, sedang, dan mungkin akan terus terjadi di jaman sekarang ini.

Masalah Kepribadian Indonesia

Kita pasti tahu bagaimana pribadi masyarakat Indonesia dewasa ini. Sebentar-sebentar demo, protes, tuntut ini tuntut itu, dsb. Ya, itu memang baik dan juga merupakan hak kita sebagai rakyat, lagipula tidak melanggar hukum yang ada bukan? Namanya juga demokrasi. Namun cerita menjadi lain jika kegiatan itu berakhir dengan kekerasan dan anarkisme. Bukan demokrasi lagi namanya meskipun mengatasnamakan tindakan tersebut sebagai demokrasi.

Sebenarnya hanya ada dua hal pokok yang mendasari terbentuknya kepribadian tersebut. Yang pertama, manusia Indonesia sudah lama dimanja oleh kebijakan pemerintah, lemahnya peran koran, dsb. Ini membuat manusia Indonesia lebih senang dengan segala sesuatu yang bersifat instan. Jika ada suatu hal yang membutuhkan kerja keras, ditambah semakin bebasnya kehidupan di jaman reformasi, maka kita mudah protes dan mengeluh.

Kedua, setelah sekian lama ”dimanja dan dikekang” oleh pemerintahan Orde Baru, kita menjadi semakin terbiasa dengan keadaan nyaman dan damai. Maka ketika memasuki jaman reformasi yang lebih bebas dan terbuka, kita mudah mengeluh dan marah-marah. Intinya kita tak menghendaki adanya perubahan, tidak setuju dengan perubahan dengan demonstrasi, dsb, namun tidak memberikan solusi yang membantu.

Memang hal-hal tersebut baru disadari dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan semakin berkembangnya jaman reformasi. Sebelumnya, sulit untuk menemukan aksi-aksi protes karena memang ”tidak diperbolehkan” oleh yang berkuasa. Permasalahannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ada kaitannya dengan kemajuan dan kebebasan jaman, khususnya media massa (lebih khusus lagi koran)? Jika ya, bagaimana koran sebagai salah satu media massa yang mudah diperoleh dapat mempengaruhi pembacanya begitu dalam?

Koran sebagai Formator

Koran sebagai salah satu media massa yang murah meriah merupakan idola masyarakat saat ini. Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia, yang berarti sekitar 200 juta orang membaca koran. Lalu bagaimana koran dapat berpengaruh sebegitu besar bagi kita? Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya antara lain adalah tidak adanya lembaga khusus yang menyensor isi koran, mudahnya mendapatkan koran, dan belum matangnya penentuan target pembaca masing-masing koran.

Pertama, hingga saat ini belum ada lembaga resmi yang khusus menyensor isi berita koran, yang ada baru lembaga sensor film. Dengan demikian, setiap redaksi bisa saja memaparkan berita yang isinya tak pantas untuk dipaparkan kepada khalayak umum. Selain itu redaksi juga dapat membeberkan suatu peristiwa dari segala sudut pandang, baik yang berakhir positif maupun negatif, sekalipun itu mengabaikan visi dan misi koran tersebut. Dan yang kebanyakan terjadi di Indonesia adalah yang berita yang berisi hal-hal negatif/buruk yang terjadi.

Hal ini bisa saja memperburuk keadaan yang memang sudah buruk. Para pembaca kemudian menjadi begitu terbiasa dengan hal-hal buruk yang terjadi dan menjadi kurang peka dan kritis dalam menghadapi suatu permasalahan. Dengan demikian, secara tidak langsung koran membuat masyarakat menjadi tidak peka, egois, dan cenderung mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah sebagai organisasi yang berkuasa di negeri ini.

Kedua, saat ini koran jenis apa pun dapat diperoleh dengan sangat mudah. Siapa pun dapat membeli koran dengan bebas dan harga yang juga terjangkau. Sayangnya, hanya segelintir orang yang tahu dan sadar bahwa koran tersebut bukan diperuntukkan kepada dirinya. Atau yang lebih parah lagi, orang tahu dan sadar bahwa koran itu bukan untuknya, tetapi tetap saja dibaca dan dinikmati.

Selain itu. peran orang tua sebagai penyensor tak resmi juga semakin berkurang. Maka jangan heran bila belakangan ini banyak anak yang kehilangan masa kanak-kanak mereka. Koran untuk orang dewasa dibaca anak kecil, koran untuk ”kalangan menengah ke bawah” yang notabene berisi hal-hal yang ”tak layak” dibaca remaja, dsb. Tentu hal ini berpengaruh buruk bagi mereka. Faktor bahasa dan isi berita yang tak tepat sangat mungkin memberikan pengaruh yang buruk bagi para pembaca “salah sasaran” tersebut. Maka diperlukan adanya kesadaran baik bagi setiap pembaca maupun pihak yang berwenang mengatur konsumsi bacaan seseorang (orang tua, penjual koran,dsb).

Ketiga, penentuan target pembaca masing-masing redaksi belum terkoordinir. Redaksi tidak bisa seenaknya memaparkan berita secara seenaknya pula. Target pembaca juga harus jelas, siapa yang sebaiknya membaca koran tersebut, agar tidak terjadi salah sasaran lagi. Selain itu diperlukan adanya perubahan tentang cara penyajian berita. Melihat situasi masyarakat saat ini yang cenderung hidup dalam keterpurukan, hendaknya berita-berita yang ingin disampaikan dipaparkan dengan pendekatan positif, sekalipun itu tentang berita buruk. Maka berita yang disampaikan sekiranya tidak semakin membebani rakyat dengan beratnya kehidupan, tetapi mampu mengambil hikmah dari peristiwa yang disampaikan tersebut. Bukankah kita lebih enak membaca berita positif, sekalipun yang terjadi adalah peristiwa buruk.

Tidak adanya kejelasan mengenai target pembaca suatu koran semakin memperburuk. Maka pembaca terkadang tidak tahu dan sadar bahwa koran itu ditujukan kepada siapa. Pembaca cenderung cuek dan tidak peduli kepada siapa koran tersebut ditujukan. Tidak adanya kejelasan tujuan koran tersebut membuat publik berpikir bahwa koran itu boleh dinikmati oleh semua orang, siapa pun itu. Karena itulah peristiwa “salah sasaran” tidak terhindari lagi. Dan ini tentu saja berakibat buruk bagi orang yang tidak seharusnya membaca isi berita dalam koran yang dibacanya. Kalau “pertahanannya” lemah, kepribadiannya bisa terpengaruh begitu dalam dan otomatis kehidupan dalam lingkungan dia hidup pun ikut berubah.

Sebagai contoh, terjadi sebuah bencana alam di suatu daerah yang memakan banyak korban baik nyawa maupun harta. Kecenderungan media massa kita adalah asyik membahas tentang korban meninggal, sikap tanggap pemerintah yang dinilai lambat, akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan oleh bencana tersebut, dsb. Di sinilah dapat dilihat bahwa koran semakin memperkeruh keadaan dengan memberikan kabar yang sekalipun nyata, tapi tak baik untuk diketahui masyarakat umum secara luas. Hal ini membuat orang kemudian cenderung menjadi marah pada Tuhan, atau bahkan cuek karena situasi yang sedemikian buruk,dsb.

Bukankah lebih baik jika yang disorot adalah berapa banyak jumlah korban yang selamat dan bisa bertahan hidup. Atau tentang betapa sigapnya pemerintah dalam menanggapi hal tersebut, juga betapa pedulinya masyarakat internasional terhadap kondisi bencana, dsb. Dengan demikian orang akan cenderung berpikir positif, bangga karena memiliki pemerintah yang peduli, dan bahkan bisa mengorbankan sesuatu miliknya untuk disumbangkan. Jauh lebih baik bukan?

Menjadi Manusia yang Semakin Dewasa

Sadar tak sadar perasaan dan kepribadian kita banyak dipengaruhi oleh media massa. Karena itulah media massa juga tidak boleh bermain-main dengan berita yang dipaparkan karena dapat mempengaruhi banyak orang dari berbagai lapisan. Bayangkan jika 200 juta penduduk Indonesia menjadi pribadi yang cuek, tak mau tahu, tidak kritis, dsb. Keadaan akan menjadi sangat rumit karena tak ada yang mau diatur, atau bahkan tak ada yang mau mengatur.

Di luar itu semua, kembali pada diri kita masing-masing, seberapa kuat “pertahanan” kita? Seberapa dewasakah kita, terutama dalam memilah-milah konsumsi kita? Sebaiknya kita tidak menelan mentah-mentah berita yang disampaikan oleh media massa, baik itu yang positif maupun negatif. Semua butuh proses dan pengolahan, maka jangan langsung percaya. Toh kekuatan rakyat jauh lebih besar untuk melawan kekuatan media massa, tentu jika kita tidak terpengaruh begitu dalam. Maka, kembali pada kita, seberapa cerdas dan dewasa diri kita dalam menikmati media massa?